(Puisi) Ibu Peri di Musim Pemilu
|
Di Penghujung Waktu Saat Jabatan Kembali di Undi, Kau Datang Seperti Pahlawan Pembawa Ribuan Janji.
Menebar Dana Perlindungan Sosial ke Pelosok Negeri, Menyulap Wajah Kekuasaan Seolah Sungguh Berbakti.
Sebagai Wujud Bakti, Katamu ini Jaring Pengaman Bagi Kaum Jelata, Pelindung Daya Beli Agar Rakyat Tak Berkalang Nestapa.
Namun di Balik Karung Beras dan Derma Yang Kautata, Ada Praktik Klientelisme, Sebuah Siasat Untuk Memburu Suara.
Demi Meraup Suara, Kunjungan Kerja Kau Ubah Menjadi Safari Kampanye, Mesin Birokrasi Digerakkan Untuk Memenangkan Kerabat dan Keluarga.
Anggaran Negera yang Besar Kau Jadikan Senjata Utama, Menjelma Kado Manis dari Sang Sinterklas.
Terbuai Pesona Kado itu, Demokrasi yang Tulus Perlahan Menjadi ilusi, Tertutup Oleh Ragam Bantuan Yang Ditebar Tanpa Henti.
Kesetaraan Antara Kandidat Dalam Gelanggang Seketika tak Tersisa, Kalah Telak Oleh Akses Tak Terbatas Sang Petahana dan Penguasa.
Padahal Derma Sang Penguasa Bukanlah dari Puluh Keringatnya Sendiri, Tetapi dari Kepingan Pajak dan Uang Rakyat di Ibu Pertiwi.
Yang Kau Kembalikan di Saat Musim Pemilihan Tiba Nanti, Seolah-olah Semua Itu Adalah Wujud Murni Kemurahan Hati.
Maka Sebelum Nurani Negeri ini Habis Tergerus Oleh Intrik, Kekuasaan Menjelang Pemilihan Sungguh Harus Dibatasi Agar Tak Pelik.
Berilah Jeda Hukum Bagi Kerabat Yang Hendak Turut Naik, Agar Keadilan Bersemi, Terbebas dari Cengkraman Dinasti yang Mencekik.
Putri Melati Nur Hidayah (Alumnus Universitas Sebelas Maret)
Editor: Redaksi Pojok Pengawasan Bawaslu Provinsi Jawa Timur