Di Antara Suara dan Sunyi
|
Musim ini, tanah kembali dibajak kata,
Yang ditanam tergesa di atas bangkai janji lama,
Yang dulu juga pernah disemai dengan lantang di depan masa,
Lalu binasa sebelum sempat ditagih dan kuburannya dibiarkan tanpa sisa.
Rakyat, disebut berkali-kali,
Sampai jadi seperti uang yang terus dicetak,
Nilainya anjlok setiap kali diucap,
Dibelanjakan murah di podium,
Lalu dilupakan di brangkas kekuasaan yang hanya dibuka untuk mereka sendiri.
Mereka bersumpah akan mendengar.
Tetapi telingga kekuasaan adalah pintu berengsel licik
terbuka lebar selagi kotak masih lapar,
lalu dikunci dari dalam,
begitu kenyang oleh nama-nama yang selesai ditelan.
Di luar cahaya panggung,
seorang ibu menimbang beras dengan tangan gemetar,
menghitung hari sebelum dapurnya benar-benar mati,
seorang buruh menyerahkan tenaganya untuk lembur,
yang tetap kalah oleh harga yang tak pernah mundur,
seorang ayah menjual motornya,
menukar keringat lama dengan harapan yang belum tentu tiba.
Mereka tidak minta podium.
Mereka meminta angka-angka itu berhenti
jadi hiasan dilayar televisi,
lalu sungguh-sungguh turun ke dapur jadi nasi,
bukan janji yang di panggang berulang,
digosongkan, disajikan lagi,
seolah rakyat tak pernah mencicipinya dulu.
Kita menyebutnya pesta demokrasi.
Tapi ini pesta yang mejanya cuma milik segelintir orang,
tempat rakyat diundang hanya untuk menghitung suara sendiri,
disorot kemera sebentar,
lalu disuruh bubar,
membawa gaung,
piring kosong,
dan kepercayaan yang terus digadaikan
tanpa niat pernah ditebus.
Kelak, saat musim ini datang lagi,
panggung akan didirikan kembali,
dengan wajah yang dipoles baru,
kain yang lebih cerah dari sebelumnya tapi akarnya masih yang lama,
yang busuk sejak dahulu,
tetap mereka tanam di tanah yang sama,
seakan tanah tak punya ingatan,
seakan rakyat tak punya luka.
Dan kita, hahaha iya kita,
yang katanya pemilik suara,
akan bertepuk tangan sekali lagi,
mempercayai sekali lagi,
menandatangani lupa di atas kertas yang mereka sebut demokrasi
sebelum pulang kerumah beratap bocor,
yang sudah bocor sejak pemilu lalu,
dan pemilu sebelum itu,
dan barangkali akan terus bocor.
Oleh : Putri Melati Nur Hidayah (Alumnus UNS)
Editor : Redaksi Pojok Pengawasan