Memutus Rantai Politik Uang: Menanam Benih Integritas di Jantung Pemilih Pemula
|
Pemilu kerap dirayakan sebagai puncak pesta demokrasi, momen ketika rakyat memegang langsung kedaulatan untuk menentukan arah masa depan negara. Namun, di balik gemerlap seremoni dan janji perubahan, bayang-bayang politik uang terus menggerogoti makna pilihan yang bebas. Hak pilih diperdagangkan, suara rakyat ditawar, dan nurani publik dipaksa berkompromi. Jika praktik ini dibiarkan, Pemilu tak lagi menjadi pesta demokrasi, melainkan ruang gelap praktik culas politik.
Berdasarkan Undang-Undang No.10 tahun 2008 menjelaskan pemilih pemula adalah warga Indonesia yang ketika hari pemungutan suara sudah genap berusia 17 tahun atau sudah/pernah menikah, secara normatif pemilih pemula adalah salah satu kelompok rentan yang suaranya rawan di salah gunakan oleh politisi-politisi “nakal”. Pemilih pemula memiliki peranan penting dalam masa depan demokrasi di Indonesia tergantung bagaimana kita menuliskan catatan diatas kertas tersebut apakah dengan “tinta emas integritas” atau dengan “noda transaksional”.
Masalah ini menjadi pelik karena Pemilu yang sudah berlangsung lebih dari 70 tahun masih saja memiliki masalah yang sama yaitu politik uang. Politik uang terjadi karena gagalnya negara dalam memberikan literasi politik, lemahnya regulasi dan pragmatisme pemilih. Kejahatan politik uang ini mengakibatkan Pemilu yang seharusnya menjadi ruang dalam memilih pemimpin yang berkompeten menjadi ajang transaksi komersial yang menghancurkan nilai nilai demokrasi dan berpotensi menghasilkan pemimpin yang corrupt. Politik uang saat ini telah bertransformasi dari anomali menjadi normalisasi. Bayangkan bagaimana kejahatan politik uang ini merenggut integritas pemilih pemula?
Melawan Normalisasi dan Memutus Mata Rantai
Saat ini seringkali para pemilih pemula menerapkan prinsip "Ambil uangnya, jangan pilih orangnya" hal ini terdengar bijak namun justru menyesatkan dan menjadi toxic dalam logika demokrasi karena lambat laun hal ini akan dianggap sebagai kewajaran dan normalisasi. Tantangan terbesar kita dalam memutus rantai politik uang adalah menghapus normalisasi. Pemilih pemula harus diberikan literasi politik agar merubah mindset dari politik uang adalah normal menjadi politik uang kehancuran demokrasi. Pemimpin yang terpilih melalui jalur transaksional fokus utamanya saat menjabat bukanlah melayani rakyat, melainkan melakukan "return on investment” dan potensi pemimpin korup. Ini adalah kejahatan yang harus diputus oleh pemilih pemula.
Memutus mata rantai politik uang pada pemilih pemula bukan hanya tanggung jawab negara namun ini adalah tanggung jawab kita semua sebagai generasi terdahulu yang mewariskan mindset normalisasi politik uang. Pentingnya dunia pendidikan untuk memasukkan “Pendidikan Politik” dalam kurikulum pembelajaran sejak dini sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman politik sejak dini.
Pemilih pemula merupakan digital natives akan lebih mudah menerima perubahan informasi melalui media sosial. Edukasi politik melalui media sosial akan lebih mudah dipahami karena media sosial bukan hanya sarana bermain dan mendapatkan informasi bagi pemilih pemula namun media sosial merupakan ruang publik utama. Dalam hal ini, penyelenggara Pemilu memiliki andil dan peranan penting dalam memberikan pemahaman dan kesadaran anti money politics pada pemilih pemula, penyelenggara Pemilu berperan aktif dalam proses demokrasi baik dengan sosialisasi pada ruang publik, memberikan literasi politik pada dunia Pendidikan, maupun memberikan pemahaman dengan pendekatan berbasis komunitas. Lebih lanjut, komunitas terkecil adalah keluarga, keluarga juga memiliki peranan yang vital dalam pembentukan “integritas” pemilih pemula dengan peranan keluarga yang sadar politik maka akan menghasilkan generasi pemilih-pemilih pemula yang berkualitas dan berintegritas tinggi. Keluarga juga harus menjadi agen perubahan untuk memutus mata rantai politik uang, dengan memberikan pemahaman bahaya politik uang mula dari hulu hingga ke hilirnya.
Memutus mata rantai politik uang pada pemilih pemula adalah perjuangan kita bersama dalam mewujudkan Pemilu yang berkualitas dan berintegritas. Dengan Pemilu yang bersih dari “noda politik”, niscaya akan menghasilkan pemimpin yang memiliki legitimasi kuat, kepercayaan publik yang tinggi, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tugas kita bersama pemilih pemula adalah merebut kembali martabat demokrasi dari politik transaksional. Perubahan harus dimulai dari mereka yang baru melangkahkan kakinya menuju bilik suara.
Mimpi kita bersama adalah memiliki pemilih pemula yang dengan tegas dan lantang berkata “Suara saya adalah masa depan bangsa yang tidak akan diperjualbelikan”, maka saya percaya politik uang akan musnah dan demokrasi Indonesia akan semakin baik. Pemilih pemula adalah kunci dari runtuh nya rezim politik transaksional dan pemilih pemula adalah cermin masa depan Bangsa Indonesia. Keberhasilan Pemilu merupakan langkah awal dalam membangun peradaban bangsa, Pemilu bukan hanya sekedar mekanisme pergantian pemimpin namun lebih dari itu, Pemilu yang berkualitas akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas.
Editor: Redaksi Pojok Pengawasan Bawaslu Jawa Timur