Begini Cara Masyarakat Tengger Merawat Demokrasi (1)
|
Tim Kehumasan Bawaslu Jatim mendampingi Bawaslu RI dalam melakukan jelajah pengawasan di masyarakat Adat Tengger, sejak Rabu-Minggu (07-09).
Tim berkeliling ke lima desa. Mulai dari Ngadisari, Jetak, Wonotoro, Ngadas, dan Ngadirejo memotret keseharian masyarakat dari pagi hingga petang.
Masyarakat Tengger memiliki khas ikat kepala, sarung dan menerima tamu di dapur. Jumat malam (09/09/2022) tim diterima di dapur oleh Ngantoro, Kastaman, dan Sunaryono.
Masyarakat Adat Tengger memiliki kekhasan tersendiri dalam merawat demokrasi. Salah satunya tentang politik uang. Penuturan dari Kepala Desa Jetak, Ngantoro menuturkan bahwa tidak ada ketertarikan untuk merebut kepemimpinan desa.
"Di Desa Jetak ini beberapa hari sebelum penutupan pendaftaran kepala desa, tidak ada yang ingin mendaftar. Karena takutnya memikul tanggung jawab sebagai kepala desa. Karena di sini saat kepala desa, harus juga sebagai Petinggi yang berfungsi pelaksana adat. Jadi upacara adat itu lebih berat tanggung jawabnya daripada sebagai pejabat administrasi pemerintahan," tuturnya.
Kehadiran kepala desa atau disebut dengan Petinggi menjadi syarat sahnya setiap upacara adat.
"Upacara adat itu tidak akan terlaksana kalau belum ada kami. Kehadiran kami sebagai syarat sahnya acara adat. Jadi kerjanya 24 jam," ungkapnya.
Ketika ada kontestasi tidak ada politik uang.
"Kalau ngasih rokok saja, bisa saja gak dipilih. Malah nanti kalau sudah selesai pemilihan, seluruh masyarakat itu akan datang ke calon terpilih dengan membawa hasil bumi dan sembako. Itu sebagai wujud syukur karena sudah ada pemimpin baru. Di mana tugasnya tidak hanya melaksanakan administrasi pemerintahan. Tapi mau khitanan, kawinan, dan juga upacara adat lainnya bisa terlaksana dengan baik," ceritanya.