Ketika Ely dan Gus Baha Ngobrol Pilkada
|
Gus Baha memang anugerah untuk Indonesia. Ceramahnya yang mengembirakan menyentuh setiap kalangan. Koordinator Divisi Hubungan Masyarakat Bawaslu Jatim, Nur Elya Anggraini termasuk muhibbinnya. Enam bulan setelah menulis status di akun facebooknya perihal ingin jumpa, akhirnya pada Rabu (10/03) ia dapat bersilaturrahim di Narukan, Kecamatan Kragan Rembang, Jawa Tengah.
“Berjumpa dengan Gus Baha melalui perantara seorang sahabat dan anggota Bawaslu Tuban, Marfuah. Kita diterima dengan sangat baik oleh beliau di dhalemnya (rumah-red),†tuturnya via saluran Whatsapp.
Perempuan asli Bangkalan ini menuturkan dalam silaturahim juga ngobrol seputar pilkada dengan Gus Baha.
“Karena tahu saya dari Bawaslu, Gus Baha sempat tanya soal apakah ada diskualifikasi pasangan calon selama pilkada 2020 dan penegakan politik uang,†terang Ely
Alumni Universitas Jember ini akhirnya menceritakan pengalaman pilkada 2020 lalu.
“Saya sampaikan kepada beliau bahwa ada beberapa rekomendasi diskualifikasi dari Bawaslu. Terakhir putusan Bawaslu Lampung yang mendiskualifikasi pasangan calon, tetapi paslonnya mengajukan kasasi ke MA dan menang. Kemudian tentang politik uang, saya menyampaikan yang terjadi di Jember. Pemberi politik uang dijatuhi pidana kurungan badan 3 tahun,†tutur Ely
Masih menurut Ely, Gus Baha juga menyinggung soal lembaga survei.
“Dawuh (Penuturan-red) Gus Baha bahwa fungsi lembaga survei mulai bergeser dari tradisi keilmuan menjadi tradisi pemenangan dan pengondisian untuk menang. Dan itu, kata Gus Baha, perlu menjadi perhatian Bawaslu juga,†jelas Ely.
Pertemuan yang dinanti selama 6 bulan ini bagi Ely mengasyikkan. Gus Baha tampil sederhana, penuh guyon dan apa adanya. Mengetahui dirinya sebagai orang Madura, Gus Baha lantas menceritakan "kecerdasan" orang Madura.
"Beliau memang sederhana dan penuh guyon. Apalagi setelah tahu saya orang Madura, saya seperti di-roasting oleh beliau," pungkasnya dengan semburat bahagia.