Hoaks atau berita bohong memiliki cara kerja yang harus kita waspadai bersama. Wakil Ketua Umum SiberKreasi, Anita Wahid mengungkapkan bahwa hoaks bekerja dengan menyasar dan memanipulasi emosi dari masyarakat. Hal ini ia ungkap saat mengisi Webinar Peningkatan Kapasitas Pengawas Pemilu dalam Pengawasan Media Sosial yang diselenggarakan Bawaslu Jatim, Selasa (15/09).

Putri Gus Dur ini menjelaskan, ada dua emosi yang disasar. Yakni perasaan terancam keamanan dan terancam jati diri dan identitasnya.

“Karena mempengaruhi emosi, bukan hanya menyasar perempuan saja. Laki laki juga bisa dipengaruhi berita bohong. Apalagi saat merasa keamanannya terancam, jati diri serta identitas agama, suku dan ideologinya terusik, maka tidak akan bisa berpikir kritis,” tuturnya.

Hoaks bekerja memunculkan curiga, tidak percaya, marah dan benci.

“Pengalaman Pemilihan Presiden 2014 lalu, ketika para pendukung calon presiden sudah reda, yang tidak bisa dihilangkan adalah kebencian dari masing-masing pendukung,” tambahnya.

Ketika sudah mengendap rasa kebencian, maka berita bohong akan mempengaruhi perilaku.

“Kita kemudian yang akan menjadi senjata dari berita bohong itu sendiri. Artinya tanpa sadar kita bisa dikendalikan oleh berita bohong,” terangnya lagi.

Inilah yang kemudian menurut Anita memunculkan polarisasi dalam masyarakat.

“Yang muncul adalah kita dan mereka. Seakan-akan yang dilakukan oleh diri sebagai bentuk cinta negara dan pihak lain sebagai yang selalu salah dan dibenci. Kemudian terjadi persekusi, bullying dan menyerang pihak lain,” ungkapnya.

Bahkan menurut Anita, polarisasi ini juga berdampak pada persepsi tentang keadilan.

“Ketidakadilan yang dilakukan oleh diri mereka tidak terlihat. Kalau terlihat, maka akan mencari pembenaran. Sementara ketikadakadilan yang dilakukan pihak lain akan terus dicari-cari,” tambahnya lagi.

Cara kerja hoax dilanggengkan lewat teknologi digital dengan penggunaan algoritma.

“Strategi yang dilakukan dengan penggunaan boot, buzzer dan terus menyerang. Terus menerus dilakukan propaganda untuk merawat kebencian dan menjaga nalar kritis tidak muncul,” jelasnya.

Untuk itulah, Anita menyarankan agar pengawas pemilu melakukan digital listening dan sosial listening.

“Pengawas pemilu di Jawa Timur harus mendengarkan di media sosial dan masyarakat langsung. Jangan menunggu viral baru melakukan klarifikasi. Pengaruhnya hanya 10 persen. Dengarkan sejak awal dari media sosial dan masyarakat langsung,” jelasnya.

Selain itu, Anita menganggap penting Bawaslu untuk menggandeng media dan komunitas.

“Ketika ada berita bohong, maka perlu Bawaslu untuk menjelaskan kepada media dan menggandeng komunitas untuk sama-sama menjelaskan kebenaran dari suatu berita,” pungkas Anita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Font Resize