Survei dari Alvara menunjukkan bahwa 1 dari 3 penduduk Indonesia adalah generasi milenial. Potensi dari generasi ini menjadi sasaran dalam politik elektoral. Untuk menggaet kelompok ini tidak semudah yang dibayangkan.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jatim, A. Afif Amrullah menyebut generasi milenial mudah berpaling ke lain hati dan menjadi tantangan tersendiri untuk melibatkan generasi milenial dalam partisipasi pilkada 2020. Hal ini ia sampaikan dalam diskusi di Bawaslu Jatim, Selasa (28/07)

“Milenial acuh terhadap politik. Mereka tidak mengenal loyalitas tinggi untuk memperjuangkan sesuatu sampai mati misalnya karena memang mudah pindah ke lain hati. Rata rata generasi ini cuek terhadap politik karena tidak merasakan dampak langsung,” terang Afif

Tantangannya akan tambah berat saat pilkada dilaksanakan di tengah pandemi.

“Harus ada upaya ekstra dari Bawaslu agar anak-anak muda ini mau tahu terhadap proses politik yang sedang berlangsung,” tambahnya lagi.

Afif mengungkapkan, setidaknya ada 5 cara untuk menjaring generasi milenial, yakni menyesuaikan diri dengan karakter milenial, memaksimalkan media sosial, menjalin hubungan emosional, cerita yang menggugah dan juga perbincangan yang viral.

“Kalau ingin bisa menggaet generasi ini ya harus masuk pada karakternya. Ya kita juga maksimalkan media sosial di mana kita kenal sekarang dengan peradaban giveaway untuk meningkatkan follower,” tambahnya.

Masalahnya, tidak banyak media sosial lembaga negara yang memiliki follower yang berlimpah. Afif menyarankan agar bisa menggandeng influencer dan pemilik akun media sosial tang punya banyak follower.

“Kita bisa menggandeng influencer agar bisa menarik generasi milenial,” pungkas Afif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Font Resize