Ada 1001 satu kisah pandemi. Laju penyebaran Covid-19 belum sepenuhnya bisa dikendalikan. Kota Surabaya berwarna merah pekat kehitam-hitaman. Di pekat hitam itulah, Bawaslu Surabaya mengawasi verifikasi dukungan calon perseorangan. Bagaimana kisahnya? Berikut liputannya.

Bawaslu Surabaya harus megawasi verifikasi faktual karena terdapat calon perseorangan yang lolos secara administrasi. Jumlah dukungan calon perseorangan yang lolos mencapai 138.565 orang yang tersebar di 31 kecamatan.

Sebaran 31 kecamatan, dengan data perkembangan Covid-19 di Surabaya data 5 Juli 2020 sampai tembus 6. 329 kasus adalah tantangan tersendiri yang perlu ditembus oleh Bawaslu Surabaya.

Koordinator Divisi Pengawasan Bawaslu Surabaya, Hidayat mengaku melakukan pengawasan di tengah pandemi memang luar biasa.

“Ada 3 Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang ternyata Positif Covid-19. Ada sekitar 70 pendukung calon perseorangan di Asemrowo yang Positif Covid-19”, tuturnya.

Untuk itulah diperlukan strategi pengawasan. “Metode yang kami gunakan dalam verifikasi faktual daerah terpapar adalah kerjasama dengan Pihak RT dan RW”, tuturnya.

Tidak hanya berhadapan dengan positif Covid-19. Karena di lapangan ketika pengawasan dilakukan tak semudah dengan teori dalam Webinar dan Diskusi Daring. Butuh seperangkat keberanian untuk mengawasi.

Disangka Petugas Bantuan Sosial

Hidayat bercerita bahwa ketika mengawasi verifikasi faktual di Surabaya bagian selatan, pengawas pemilu dikira sebagai petugas bantuan sosial.

“Ketika pengawas mendokumentasikan pendukung yang Memenuhi Syarat (MS) atau Tidak Memenuhi Syarat (TMS), para tetangga lain minta di foto juga dengan nyeplos ‘lhooo saya minta difoto juga pak biar dapat sumbangan”, tutur Hidayat via Whatsap

Menurut Hidayat kedatangan pengawas Pemilu yang mengawasi jalannya verifikasi dianggap sebagai pemberi bansos sehingga menarik masyarakat untuk meminta foto bersama demi juga mendapatkan bantuan sosial.

“Sebagaimana yang kita ketahui untuk mendapat bantuan sosial dari pemerintah perlu selfi atau di foto di depan rumah tinggalnya”, tambahnya lagi.

Hidayat akhirnya menyampaikan bahwa yang dilakukan oleh pihaknya sebagai kelanjutan dari tahapan Pilkada untuk mengecek dan melakukan pengawasan verifikasi dukungan yang maju Pilwali jalur perseorangan.

“Akhirnya setelah dijelaskan, masyarakat mulai paham”, tambahnya.

Dikira Petugas Medis

Lain di Selatan, beda pula dengan Surabaya utara. Hidayat mengaku bahwa pengawas Pemilu yang turun dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dikira oleh masyarakat sebagai petugas kesehatan yang sedang mengevakuasi pasien postif Covid-19. Hal ini menyebabkan kedatangan pengawas Pemilu langsung membuat masyarakat menjauh.

“Tim verfak dengan baju APD lengkap dikira menjemput pasien postif Covid-19 sehingga membuat masyarakat akhirnya menjauh”, tambahnya lagi.

Akhirnya, pengawas Pemilu menerangkan dengan baik dan seksama bahwa sedang bertugas demi kepentingan Pilwali.

“Ya akhirnya kami jelaskan bahwa sedang verifikasi faktual dukungan calon perseorangan”, tuturnya.

Tahapan Verfikasi Faktual akan dilanjutkan dengan Pemutakhiran Data Pemilih. Tantangannya akan lebih berat. Karena tidak lagi menggunakan purposive sampling. Tetapi seluruh data pemilih. Kita memang sedang bertaruh. Bawaslu Surabaya akan terus mengawasi tahapan di tengah hitamnya Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Font Resize