Hoax menjadi ancaman yang akan merusak kualitas Pilkada 2020. Sebaran hoax tumpah ruah di media sosial. Yang disasar dari hoax tidak hanya peserta tapi penyelenggara. Anggota KPU Provinsi Jatim, Gogot Cahyo Baskoro mengaku bahwa KPU pernah menjadi sasaran dari hoax.

“Kami di KPU juga pernah menjadi sasaran hoax. Biasanya hoax memiliki karakter tidak ada basis data yang jelas, sarat akan kepentingan politik dan bukan kepentingan publik, isunya seragam, massif, dan ditengarai ada buzzer sebagai penyuplai isu dengan data pembenar hingga meme”, ungkap Gogot Cahyo Baskoro di Bawaslu Jatim, Kamis (23/07).

Gogot menilai bahwa masyarakat mudah menjadi korban hoax dikarenakan adanya budaya saling berbagi dan pamer, sentimen SARA masih kuat, belum bisa membedakan ranah pribadi dan publik, cukup melihat berita dari judul dan mengabaikan isi.

“Hoax ini dibuat oleh orang pintar yang licik, disebarkan oleh orang bodoh yang baik. Maka jadilah orang pintar yang baik”, tambahnya

Alumni Univerisitas Jember ini berbagi cara untuk memutus mata rantai hoax dalam Pilkada. Ia mengajak agar mengenali alamat dan situs berita, mulai membedakan antara fakta dan opini, dan mengimbau untuk mengikuti komunitas yang terpercaya.

“Cara memutusnya dengan menghindari untuk menyebarkan berita yang tidak jelas, mengacuhkan, tegur, unfollow dan laporkan”, pungkas Gogot

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Font Resize