Ketua Bawaslu Jatim, Moh. Amin menyatakan perlunya mengedepankan etika politik yang santun, bersih dan berbudaya dalam Pilkada 2020. Hal ini ia sampaikan saat didapuk menjadi narasumber oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jawa Timur, di Malang, Sabtu 26 Juli 2020.

Budaya politik santun yang dimaksud oleh Alumni UIN Sunan Ampel ini adalah perlunya menanam kesadaran bahwa politik bukanlah semata-mata tentang kekuasaan, melainkan panggilan pengabdian dan pelayanan.

Pada sisi lain, menurut Amin, masyarakat perlu kritis menghadapi perbedaan pandangan serta wacana antarpartai sebagai kewajaran demokrasi.

“Penting untuk kita memiliki etika politik yang sesuai dengan nilai budaya kita. Bahwa politik bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi pengabdian dalam pelayanan. Tatakarama dalam politik yang toleran, tidak berpura-pura, tidak arogan, tidak melakukan kebohongan publik, tidak manipulatif”, ungkapnya

Etika politik menjadi penting di tengah tantangan Pilkada 2020, menurut Amin, adalah dimensi ujaran kebencian dan politisasi atas suku, agama, dan antar golongan (SARA). “Bawaslu memasukkan ujaran kebencian dan politisasi SARA dalam kerawanan Pilkada”, tambahnya lagi.

Untuk menghadapi ujaran kebencian dan politisasi SARA, Amin menilai pentingnya membangun budaya politik partisan di masyarakat. Menurutnya, masyarakat perlu terlibat dalam proses Pilkada, warga negara perlu aktif secara sukarela, memiliki keyakinan dalam pengambilan kebijakan publik, dan memberikan kontrol terhadap kebijakan pemerintah.

“Peran serta masyarakat, tokoh agama, tokoh politik dalam pilkada ini sangat penting, mulai proses tahapan, hingga lahirnya kebijakan pasca pemilihan”, terang Amin.

Amin memungkasi bahwa perbedaan politik dalam Pilkada merupakan penghargaan terhadap hak asasi manusia, bagian dari kedewasaan dalam bersikap.

“Demokrasi idealnya dibangun dengan partisipasi, kesukarelaan kebebasan memilih dan bukan dengan mobilisasi, keterpaksaan dan ancaman”, pungkas Amin

Tampak hadir peserta dari perwakilan tokoh agama, tokoh mahasiswa, organisasi massa, lembaga swadaya masyarakat, dan tokoh masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Font Resize