Tantangan Pilkada di era pasca kebenaran (post truth) cukup rumit. Diperlukan pemetaan terhadap pihak dalam membangun komunikasi strategis. Kurniawan menyebut ada empat stakeholder. Yakni institusi (company), audience (costumer), collaborator, dan comunity. Hal ini ia sampaikan via daring, kamis (18/06)

Kurniawan menyebut bahwa setiap institusi perlu memastikan pihak internal memahami setiap visi dan misi yang sedang diperjuangkan. “Juru bicara setiap institusi adalah anggota yang ada di dalamnya. Untuk itu, perlu kesepamahaman internal atau aggota dari setiap institusi,” tuturnya.

Yang kedua, Kurniawan menyabut tentang audience, yakni sasaran komunikasi yang hendak dipengaruhi pemahaman atau diubah perilakunya.

“Memilihara audience adalah bagian penting dari setiap insitusi. Audience yang puas akan semakin erat hubungannya. Termasuk sebaliknya,” tambahnya lagi.

Ketiga, Pria kelahiran Jember ini menyebut tentang perlunya mitra yang dapat dimanfaatkan insitusi untuk mendukung strategi komunikasi karena reputasi dan kredibilitas yang dimilikinya.

“ Perlu juga kolaborasi dengan mitra lain. Komunikasi yang berhasil adalah saat tidak adanya jarak antara intitusi dengan audience,” tambahnya.

Terakhir, Alumnus Universitas Indonesia ini menjelaskan tentang komunitas. Yakni pihak berkepentingan yang dapat mempengaruhi komunikasi strategis.

“Karakter komunitas menentukan juga dalam keberhasilan komunikasi. Karena memiliki minat dan perhatian yang sama terhadap isu tertentu,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Font Resize