Pemilu dan pilkada memliki cakupan yang luas dan cukup kompleks. Tidak hanya tentang tutorial mencoblos dan menghitung hasil suara, namun dalam prosesnya terdapat tarik menarik kepentingan, berebut pengaruh dengan politik uang hingga paragmatisme pemilih. Demikian kiranya gambaran singkat dari film The Candidate, yang digarap oleh Bawaslu Ponorogo.

Adalah Juwaini, Anggota Bawaslu Ponorogo, sekaligus sutradara dari film tersebut yang menangkap fenomana di masyarakat untuk kemudian dituangkan dalam bentuk film. Tujuannya untuk memberi pesan kepada masyarakat tentang pemilu yang bersih, demokratis dan berkeadilan.

“Kami menangkap fenomena tentang musim pilihan yang lazim dengan bagi-bagi duit. Popularitas didapat sekejap dengan cara instan. Ini tampaknya yang juga ditangkap oleh masyarakat,” terang Juwaini via saluran WhatsApp.

Menurut Juwaini, ada sebagian masyarakat yang mempengaruhi tokoh-tokoh tertentu untuk menjadi calon dengan tujuan agar dapat keuntungan sesaat dari proses demokrasi.

Sosialisasi dengan film ini memang segaja dilakukan oleh Bawaslu Ponorogo agar pesan dari Bawaslu mudah dipahami oleh masyarakat. “Film yang kami garap ini juga memasukkan unsur seni khas ponorogo. Mulai Reyog dan Pencak Silat. Kami juga merekam praktek perdukunan yang juga kerap dilakukan dalam pesta demokrasi,” terangnya.

Untuk membuat film ini, Juwaini mengaku berangkat dengan kesadaran dan keikhlasan dari jajarannya. Ia yang memilih sendiri pengawas pemilu di tingkat kecamatan (panwascam) yang memiliki bakat untuk bisa memainkan drama.

“Sekarang sudah hampir selesai. Kendala utamanya karena benar-benar mandiri. Ditambah dengan adanya wabah covid-19. Jadi garap film ini bernar-benar berangkat dari keikhlasan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Font Resize