Pada hari kedua dibukanya pendaftaran Sekolah Kader Pengawas Pemilu (SKPP) Daring Bawaslu, jumlah peminat sudah mencapai 4500 lebih. Mereka tersebar di seluruh wilayah Kabupaten/Kota se-Indonesia. Hal itu disampaikan Koordinator Divisi Pengawasan Bawaslu, Mohammad Afifuddin saat rapat koordinasi online tentang Penyusunan Materi SKPP Daring, Senin pagi (06/04).

“Kemeriahan yang kita sebar di medsos terkait informasi pendaftaran SKPP Daring ini membuat pendaftar banyak sekali. Itu hal baik. Partisipasi memang kita buka di semua daerah”, kata Afif.

Dengan tingginya minat masyarakat, maka perlu dipikirkan bagaimana-bagaimana secara teknis pelaksanaannya.

Ketua Bawaslu, Abhan memprediksi jumlah peserta SKPP Daring akan mencapai 5000 pendaftar. “Padahal ini masih akan dibuka sampai 8 April nanti. Sepertinya akan sampai 5000 orang yang mendaftar”, terangnya.

Menurut Abhan momentum kegiatan SKPP Daring sangat tepat karena bersamaan dengan penundaan Pilkada sebab wabah Covid-19. “Walau belum tahu kapan Pilkada akan dilanjutkan, namun begitu tahapan berjalan, para alumni SKPP Daring akan telah siap menjadi pengawas partisipatif”, jelasnya.

Bawaslu sendiri menetapkan 2 tujuan SKPP. Tujuan jangka pendek, alumni SKPP dapat langsung menjadi pengawas partisipatif, sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah mereka akan mendorong partisipasi masyarakat sebanyak mungkin.

Sementara Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Ratna Dewi Pettalolo, memberikan 4 catatan penting, yakni terkait metode, materi, manajemen sekolah dan sistem monitoring. Materi harus terstandar dan disesuaikan dengan ketersediaan paket data peserta. Waktu bicara harus dibatasi, menyampaikan materi dengan lugas dan tepat sasaran.

“Tantangan lain juga pada metode. Bagaimana menjadikan kelas SKPP Daring ini tetap menarik meskipun tidak bertemu langsung dengan peserta”, terang Dewi.

Yang tidak kalah penting adalah menentukan manajemen sekolah, baik di level RI maupun Provinsi, serta bagaimana sistem monitoring yang akan dibangun untuk keberhasilan kegiatan ini. “Bisa jadi ini nanti, yang kita lakukan, menjadi contoh atau role model bagi lembaga lain”, jelas Dewi sambil mengakhiri arahannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Font Resize