Oleh : Nur Elya Anggraini (Anggota Bawaslu Jawa Timur

Setiap tanggal 21 April, kita memperingati hari Kartini. Lewat surat-suratnya Kartini berhasil membangun optimisme. Habis gelap, terbitlah terang. Sebagaimana juga dalam perjalanan demokrasi kita, habis pandemi, terbitlah Pilkada. Tahun ini, kita akan menghadapi momentum Pilkada pada 9 Desember 2020. Walaupun dalam situasi pandemi ini kita jauh dari normal.

Barangkali kita sekarang seperti tahanan rumah. Tidak keluar kemana-mana, disiplin jaga jarak, sering cuci tangan pakai sabun, pakai masker kemana-mana dan tak bisa berkumpul dengan keluarga. Sudah sekitar 1 bulan kita di rumah dan mengurangi interaksi dengan dunia luar.

Baru sebulan, kita barangkali sudah mengalami kebosanan yang luar biasa. Keluar rumah dibayangi oleh kekhawatiran, di dalam rumah terus juga menyebabkan suntuk dan terancam tidak memiliki penghasilan. Itupun ada juga sebangsa kita yang tidak beruntung. Survei Saiful Mujani pada pertengahan bulan April 2020, ternyata 25 persen penduduk Indonesia atau sekitar 50 juga orang sudah tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup. Untuk menyambung hidup, ya salah satunya dengan hutang.

Situasi sulit yang kita hadapi sekarang, barangkali juga dirasakan oleh Kartini. Walau konteksnya berbeda. Bila kini sedang pandemik, maka dulu adalah kentalnya patriarkhi. Bila kini tidak keluar rumah demi kesehatan, maka dulu Kartini tidak bisa keluar rumah karena peraturan.

Betapa tidak nyamannya hidup perempuan bila tanpa kesetaraan. Betapa gelapnya nasib bila tanpa adanya ruang. Perempuan pada zaman Kartini banyak yang dikekang, tak boleh berpendidikan, dan dipinggirkan. Bukannya ini lebih buruk dari pandemi yang kita alami? Kita memang sudah sebulan tak bisa kemana, pada zamannya banyak perempuan seumur hidup tak bisa kemana-mana.

Semuanya memang serba sulit. Apalagi kita akan menghadapi Pilkada pada tahun 2020. Habis masa darurat berakhir pada 29 mei, kita akan memulai tahapan. Seorang ada yang berbisik, Pemilu kemarin pada tahun 2019, banyak yang gugur sebagai pahlawan demokrasi. Di tengah pandemi tak menentu selesainya ini semoga tak ada penyelenggara yang gugur lagi dalam Pilkada.

Lebih-lebih adalah keselamatan pemilih yang akan datang ke TPS. Termasuk juga para peserta yang akan beradu strategi mencari dukungan, mengumpulkan massa, melakukan kampanye, dan sederet kemungkinan keramaian lainnya, yang bisa jadi juga akan terancam jiwanya manakala pandemik tidak berakhir. Ini tentu harus kita pertimbangkan matang-matang. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Dar’ul mafasid muqaddam ala jalbil masholeh. Menghindari kerusakan lebih baik daripada menerima kebaikan.

Apa yang bisa kita pelajari dari Kartini dalam situasi pandemi?

Menolak Menyerah

Kartini berhasil menginspirasi kita. Semangat menolak menyerah, pantang putus asa dalam situasi dan kondisi apapun. Di saat zaman belum ada whatsapp, facebook. Instagram, dan jaringan internet, Kartini menulis surat dan mengirimkan gagasannya dan akhirnya sampailah hingga ke kita hari ini.

Walaupun misalnya ada yang menangkap pesan-pesan Kartini sebatas harus memakai kebaya pada tanggal 21 April, memakai sanggul sebagaimana yang tersebar di foto-fotonya. Itu tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Tetapi bila kita ingat pesan Soekarno bahwa yang kita hidupkan adalah apinya sejarah, bukan abunya saja, maka tak cukup kita dengan mengingat Kartini dengan memakai kebaya saja. Tetapi semangat dan nilai-nilai Kartini harus kita amalkan.

Kartini memang mengajarkan optimisme. Kartini pernah menulis, terkadang kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu. Ya, kini kita dalam suasana yang serba sulit. Namun bilamana kita percaya terhadap Kartini, maka habis gelap dan kesulitan, terbitlah terang dan kebahagiaan.

Kata Yoval Noah Harari dalam Homo Deus, umat manusia selalu berhasil untuk melawan kelaparan, perang dan mengatasi wabah. Namun sampai kapan? Entahlah, karena saat kita bosan di rumah, barangkali kita perlu untuk mengingat Kartini. Karena perjuangan Kartini jauh melampaui kebosanan.

Pramodya Ananta Toer dalam menulis biografi Kartini berjudul Panggil Aku Kartini Saja, menggambarkan tentang lika liku kehidupan Kartini dalam pengaruh kolonialisme dan feonalisme yang menguatkan patriarkhi. Untunglah sosok Kartini diselamatkan oleh kegemarannya membaca buku. Diantaranya buku Multatuli berjudul Max Havelar, yang berkisah tentang penderitaan masyarakat Indonesia dalam cengkraman kolonialisme.

Pengaruh buku yang dibaca dan juga terlibat merasakan situasi Indonesia kala itu, maka Pramodya menggambarkan kondisi pertarungan batin Kartini hingga semangat perlawanan itu mulai muncul untuk kemerdekaan perempuan Indonesia. Begini sebagian kalimat semangat perlawanan dalam diri Kartini.

“… barang siapa tidak berani, dia tak akan menang. Itulah semboyanku. Maju. Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani. Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia.”

Belajar dari Kartini, kita harus berani. Konteksnya hari ini berani menang lawan covid-19. Berani ambil segala resiko kebijakan ditengah pandemi dengan prinsip pencegahan daripada pengobatan. Termasuk dalam konteks Pilkada bila dipaksakan pada tanggal 9 Desember 2020, maka yang disampaikan oleh Moh Anggota Bawaslu RI, Moh. Afifuddin tentang penerapan protokol pencegahan persebaran covid-19 di TPS harus benar-benar dilakukan.

Memang implikasinya terhadap anggaran. Namun keselamatan dan kesehatan rakyat harus diutamakan oleh kita semua. Sebagaimana juga Kartini yang dalam tulisan-tulisannya selalu menulis diksi tentang rakyatku sebagai bentuk nasionalisme dan kecintaan terhadap semua anak bangsa.

Kita berharap Pilkada akan sukses dengan tingkat partisipasi yang tinggi, kontestasi yang sehat, dan terpilihnya pemimpin secara adil. Untuk sampai kesana memang kita harus menghabiskan masa gelap pandemi, lalu menuju terang Pilkada. Tanpa itu semua, kita akan banyak ditikam oleh kekhawatiran, kecemasan akan penularan covid-19. Karena kita tidak ingin pelaksanaan Pilkada hanya seremonial semata dengan resiko mengorbankan pemilih. Sampai disini, kita memang harus belajar lagi pada Kartini tentang cara mencintai rakyat dan Indonesia. Selagi lagi, selamat hari Kartini. Semoga yang merayakan dengan memakai kebaya, tetap memakai masker, handsanitizer dan sering cuci tangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Font Resize