Bertepatan momentum peringatan hari Kartini pada 21 April 2020, Bawaslu se-Jatim meluncurkan Pojok Laktasi dan Ruang Ramah Anak. Peluncuran dilakukan secara serentak via online dengan diikuti oleh Bawaslu Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Ada saja dibalik peluncuran ini? Berikut liputannya.

Berawal dari Perspektif
Ada yang berbeda dengan suasana kantor Bawaslu Jatim. Para perempuan itu datang memakai kebaya dan masker untuk memperingati hari Kartini. Tetap jaga jarak dan memperhatikan protokol kesehatan, saat Koordinator Divisi Organisasi dan Data Informasi, Eka Rahmawati menggunting pita yang disambut gemuruh tepuk tangan secara online peserta yang mengikuti.

Hari ini Bawaslu se Jawa Timur meluncurkan pojok laktasi. 28 daerah lainnya atau 74 persen dari seluruh Kabupaten/Kota se-Jawa Timur juga meresmikannya hari ini. Tidak mungkin ada asap, bila tak ada api. Demikian juga tak ada ruang laktasi, tanpa gagasan besar dibaliknya.

Eka Rahmawati bercerita bahwa rencana pojok laktasi sudah disiapkan sejak 2 tahun lalu. Namun baru bisa dilaksanakan. Secara kebetulan, sejak 2019 banyak sekali staf Bawaslu Jawa Timur baik perempuan maupun laki-laki yang memiliki bayi, juga anak usia balita dan balita yang terkadang terpaksa ikut ke kantor.

“Kebijakan pojok laktasi ini sebenarnya tentang perspektif ramah anak dan perempuan. Kami berkomitmen menuju 100% Bawaslu Jawa Timur responsif gender. Wujud nyata komitmen kami, sebab, gender equality at work does matter”, terang Eka.

Alumnus Unair Surabaya menambahkan bahwa ia tidak ingin membiarkan staf perempuan yang menyusui atau memeras ASI kebingungan mencari tempat yang menjamin privasi dan keamanan mereka, atau staf perempuan dan laki-laki bingung membawa anak kecil karena ruang yang aman dan bebas asap rokok tidak tersedia. Padahal ini seharusnya adalah hak yang mereka dapatkan.

“Harapannya, fasilitas ini dapat diakses oleh sebanyak mungkin kelompok pemanfaat di lingkungan Bawaslu, perempuan maupun laki-laki. Staf maupun pimpinan. Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Single parent atau bukan. Sebab hak reproduksi bukan melulu wilayah perempuan. Bapak pun juga harus difasilitasi jika melakukan pengasuhan anak”, tuturnya.

Guna Ruang Laktasi
Saat baru selesai menggunting pita sebagai simbolisasi peluncuran ruang laktasi, Eka menuturkan satu persatu yang ada dalam ruang laktasi. Ada kasur untuk tempat tidur anak, sofa untuk ibu menyusui, freezer untuk menyimpan ASI sebelum dibawa pulang, mainan anak, buku cerita, buku mewarnai, dan pensil warna.

“Pada prinsipnya, kami ingin menjamin privasi perempuan dan menjamin keamanannya. Tempat yang bersih, higienis, dan nyaman”, jelasnya.

Eka menuturkan, bahwa ruang laktasi digunakan agar potensi yang dimiliki oleh staf laki-laki dan perempuan dapat dimaksimalkan dengan tetap memberikan hak terhadap anaknya.

“Kami ingin, selain memperbaiki lingkungan kerja, fasilitas ini dapat mendorong peningkatan produktivitas kerja seluruh jajaran Bawaslu baik perempuan maupun laki-laki. Ini bentuk kepedulian dan dukungan kami agar staf perempuan dan laki-laki dapat memberikan potensi terbaiknya tanpa terhambat masalah pemenuhan hak reproduksinya”, Pungkas Eka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Font Resize