No Women No Demokrasi (Tidak ada demokrasi tanpa perempuan; red), adalah kata pembuka dari Anggota Bawaslu Republik Indonesia, Ratna Dewi Pettalolo, dalam kegiatan Sosialisasi Pengawasan Partisipatif Kelompok Perempuan dan Penandatanganan Kerja sama antara Bawaslu Jatim dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Rabu Sore (11/03), di Sidoarjo.

“Jadi tidak akan ada demokrasi tanpa perempuan, karena jumlah pemilih perempuan itu lebih banyak”, jelasnya.

Dewi lalu menunjukkan data bahwa angka pemilih perempuan secara nasional berada di atas angka 50 persen, “Pertanyaannya, siapa yang menentukan demokrasi di Indonesia?”, tanya Dewi memancing reaksi yang hadir. Serentak, para peserta merespon: “Perempuaaaan”.

Dewi kemudian melanjutkan bahwa perlu peran dan keterlibatan perempuan dalam mengawasi jalannya demokrasi.

“Kalau pemilih perempuan yang ada di Indonesia baik, maka kualitas demokrasi akan jadi baik. Tetapi sampai sekarang perempuan tetap jadi sasaran untuk melakukan pelanggaran Pemilu. Jadi kami ingin melibatkan partisipasi masyarakat dan terutama kelompok perempuan untuk mengawasi Pemilu”, jelas Dewi.

Keterlibatan para perempuan dalam perhelatan demokrasi bagi Dewi cukup penting. Bentuk keterlibatannya bisa sebagai penyelenggara Pemilu, pemantau maupun pelapor.

“Jadi peran perempuan bisa aktif sebagai penyelenggara, pemantau dan pelapor. Jadi nanti bisa ikut melaporkan kalau ada pelanggaran”, jelasnya.

Hadir dalam giat adalah Ketua dan Anggota Bawaslu Jatim, dan perwakilan perempuan dengan latar belakang provinsi sebagai santri, nelayan, buruh pabrik, kuli panggul, dan sebagainya. (ryn)

Fotographer : Ilham Bagus P

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Font Resize