Audiensi MoU Unmuh Ponorogo

jatim.bawaslu.go.id – Ponorogo. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, Bawaslu Jatim menjemput bola. Kali ini melakukan audiensi dan penjajakan kemungkinan MoU dengan Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO). Kampus yang berjarak 189 km dari kantor di Jl. Tanggulangin No. 3 Surabaya.

Dengan menempuh perjalanan sekitar 4 jam, akhirnya sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan dari Bawaslu Jatim yang terdiri dari Koordinator Divisi Humas dan Hubal, Nur Elya Anggraini; Koordinator divisi Penanganan Pelanggaran, Ikhwanudin Alfianto, Bawaslu Ponorogo, Juwaini; Bawaslu Banyuwangi, Hasyim Wahid; Bawaslu Madiun, Mohda Alfian bersama dengan staff humas dan Hubal diterima oleh Rektor Universitas Muhamamiyah Ponorogo, Sulton.

Pagi itu perbincangan tentang pengawasan partisipatif tampak segar dan mencerahkan. Ely memulai pengenalan dan kemungkinan kerja sama dengan dengan kampus, “Kami memiliki seperangkat program yang bisa kita kerja samakan. Mulai dari Sekolah Kader Pengawasan Partisipatif (SKPP), Pojok Pengawasan, KKN Tematik, dan sosliasai pengawasan partipatif”, jelasnya.

Mantan penyiar radio tersebut lalu menjelaskan secara lebih rigid yang dimaksud dengan sekolah pengawasan partisipatif dan pojok pengawasan. ”Kami memiliki banyak produk yang kami tulis, baik itu dari Bawaslu RI, Bawaslu Jatim, dan Bawaslu Kabupaten/Kota barangkali karya kami bisa diletakkan di perpustakaan sebagai pojok pengawasan”, imbuhnya.

Gayung bersambut. Sang rektor juga memiliki kepentingan yang sama. Mengenalkan mahasiswanya secara lebih dekat dengan dunia politik dan Pemilu langsung dari praktisinya, “MoU dengan pihak luar memang suatu keniscayaan. Kami memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi mahasiswa agar memiliki pemahaman yang utuh tentang politik dan Pemilu”, jelasnya.

Masih menurut Rektor UMPO, kampusnya memiliki binaan sekolah yang ada di desa-desa yang sehingga nantinya dapat juga ditularkan pengawasan partisipatif. Sementara untuk pojok pengawasan, pihaknya juga merasa senang bila ada referensi tentang dunia pengawasan Pemilu.

“Kami membuka diri untuk menerima buku-buku dari Bawaslu agar mahasiswa kami bisa berinteraksi langsung dan mengetahui dinamika pengawasan Pemilu di lapangan. Di pojok perpus kami juga ada buku penelitian tentang reyog”, katanya.

Penasaran dengan perpustakaan kampus, Ely diajak untuk melihat lebih dekat. Perpustakaan tersebut terdiri dari dua lantai. Lantai bawah, pagi itu dipakai untuk diskusi. Sementara lantai atas, adalah buku-buku serius yang berkenaan dengan jurusan mahasiswa. Tampak di tengahnya adalah bangku-bangku untuk mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas. Di Pojok sebelah kanan, deretan referensi kitab kuning menghiasi rak.

“Perpustnya eye catching ya, tolong Bawaslu Jatim inden space ya. Ini berapa koleksi bukunya?”, sambil tersenyum Ely bertanya ke petugas perpus yang langsung di jawab lebih dari 15.000 koleksi buku.

Sambil berjalan memutari perpus, Ely akhirnya memberikan buku simbolis kepada Rektor. Buku yang berjudul Sejarah Pengawas Pemilu dari 1999-2019, diterima langsung oleh Rektor disaksikan oleh rombongan yang lain, “Buku ini sejarah selama 20 tahun dunia pengawas Pemilu”, ujar Ely yang disambut dengan senyum sang rektor.

Perjalanan ke Ponorogo merupakan ikhtiar Bawaslu Jatim untuk terus menghidupkan detak pengawasan partisipatif di tengah masyarakat. Panjang umur pengawasan partisipatif.

Font Resize