Purnomo dan Kominfo

jatim.bawaslu.go.id – Jakarta. Kamis (20/02): Panas terik ibukota ternyata tidak membuat surut semangat Koordinator Divisi Hukum Bawaslu Jatim, Purnomo Satriyo Pringgodigdo, untuk menimba pengetahuan terkait dengan cek fakta yang diselenggarakan kerjasama antara Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika.

“Tahun 2020 ini, kami memiliki 19 Kabupaten / Kota yang akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah yang berkaca dari pemilihan kepala daerah sebelumnya, serta pemilihan umum, baik di Indonesia ataupun bahkan Amerika Serikat, maka penyebaran informasi yang tidak benar menjadi satu distorsi yang bisa jadi cukup signifikan dalam penyelenggaraannya. Hal ini bukan saja bisa memberikan referensi yang salah bagi pemilih, tetapi juga meruntuhkan integritas penyelenggaraan pemilihan, baik umum ataupun kepala daerah”, ujarnya.

Dengan dipandu oleh Rangga Adi Negara, ST. Kasi Penerapan Literasi Digital dari Kementrian Komunikasi dan Informatika kegiatan ini dimulai dengan menantang peserta untuk membedakan bilamana informasi yang ditampilkan di layar adalah benar atau hoax. Ketika itu ada kurang lebih 12 informasi yang ditayangkan dengan variasi yang cukup menantang untuk dibedakan, tidak jarang ada informasi yang benar namun karena sulit diterima nalar, atau bahkan tidak kita sukai kemudian diidentifikasi sebagai hoax dan demikian pula sebaliknya.

Paparan pun kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan jumlah informasi yang selama ini terjaring oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika. Jumlah angka yang hampir mencapai 5.000 itu ternyata tumbuh semakin subur ketika ada momen-momen politik, seperti pemilihan umum ataupun pemilihan kepala daerah.

“Hoax itu tumbuh subur juga karena akses internet yang semakin luas dan ada fenomena era post-truth yang membuat fakta tidak lagi terasa penting, karena yang berpengaruh adalah emosi dan keyakinan masing-masing individu atas informasi tersebut”, tambahnya lagi.

Purnomo juga bercerita bahwa ada beberapa hal lain yang disampaikan oleh pemateri seperti klasifikasi berita bohong, alasan mengapa kita mempercayai hoax, jenis jenis mis-informasi, sampai dengan ajakan untuk ‘3S’ atau Saring Sebelum Sharing.

“Pemateri juga menjelaskan tentang instrumen -instrumen yang dapat digunakan untuk mengecek bilamana informasi tersebut merupakan fakta, sampai melihat bagaimana pola penyebaran informasi tersebut terutama bila dilakukan melalui twitter, yang merupakan salah satu platform media sosial”, terangnya lebih jauh.

Yang menarik lagi adalah bahwa instrumen – instrumen tersebut sangat mudah dilakukan, bahkan dengan menggunakan gawai atau perangkat telepon pintar yang kita miliki. “Tampaknya akan menarik jika hal ini dapat kita sajikan juga untuk Kabupaten / Kota di Jawa Timur, khususnya yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah”, bisik Pak Purnomo di sela – sela materi.

Kegiatan ini pun kemudian ditutup dengan bertukar nomor telepon, khususnya dengan narasumber sampai dengan berfoto bersama.