jatim.bawaslu.go.id. Ada banyak cara untuk mengenalkan Bawaslu ke publik. Harapannya adalah meningkatkan partisipasi. Sesuai dengan slogan yang menjadi landas geraknya: Bersama Rakyat Awasi Pemilu, Bersama Bawaslu Tegakkan Keadilan Pemilu. Ibarat rumah, maka Humas adalah loby rumah. Siapapun yang lewat, akan menilai rumah dari ruang tamu dan tampilan depan. Bagaimana upaya Bawaslu Jatim untuk memperindah tampilannya ke hadapan publik? Berikut liputannya :

Pasca Pemilu tahun 2019, beberapa lembaga survey yang cukup kredibel, seperti yang dilakukan oleh Kompas, menempatkan Bawaslu sebagai lembaga yang lebih dipercaya oleh publik.

Capaian ini melalui proses yang panjang dan lama. Tentu terdapat basis konsep yang jelas disertai dengan upaya menerjemahkan konsep dalam tataran praktis.

Bawaslu Jawa Timur setidaknya harus bergerak bersama dengan jajaran Bawaslu yang tersebar di 38 Kabupaten/Kota. Tantangannya adalah saat di tingkat Kabupaten/Kota masih baru satu tahun menjadi lembaga permanen.

Telah banyak hal yang dilakukan oleh Bawaslu Jawa Timur. Mulai dengan mendengar setiap masalah yang ada di tingkat Kabupaten/Kota, hingga dengan penajaman skill Penanggungjawab Kehumasan dan staff khusus yang membidangi kehumasan.

Humas tidak sekadar menarasikan peristiwa dalam berita. Humas adalah teras rumah, tempat paling awal orang lain melihat Bawaslu.

“Setiap orang akan melihat ruang depan rumah pertama kalinya. Publik tidak peduli dapurnya. Humas adalah tampilan depan wajah Bawaslu di hadapan publik”, kata Nur Elya Anggraini, Koordinator Divisi Humas dan Hubungan Antarlembaga Bawaslu Provinsi Jawa Timur.

Dalam rentang satu tahun menggerakkan kehumasan, Bawaslu Jawa Timur mengawali dengan pengenalan atas tanggung jawab dan wewenang, perlunya melakukan adaptasi terhadap perubahan dan pada puncaknya dapat meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap Pemilu.

“Humas memiliki agenda agar mampu mendorong partisipasi masyarakat terhadap Pemilu lebih baik”, tambah perempuan yang karib disapa Ely itu.

Partisipasi menjadi kata kunci. Baik itu untuk kepentingan kepada kursi yang diperebutkan, maupun kepada partisipasi dalam mewujudukan keadilan Pemilu. Karena setiap kursi akan kian mahal, bilamana partisipasi menjadi meningkat. Mandat rakyat benar-benar kepada yang berhak mendapatkannya. Sementara partisipasi dalam mengawal proses dan tahapan Pemilu adalah hal yang niscaya harus dilakukan.

Walaupun memang harus disadari, bahwa meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mengawal proses mirip dengan berupaya mencari jarum di tengah tumpukan jerami.

“Memang sulit melibatkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat, tetapi kami melakukan cara agar masyarakat bisa percaya kepada Bawaslu”, terangnya lagi.

Menanam kepercayaan memang sulit, tetapi harus dilakukan untuk meningkatkan partisipasi. Salah satu yang dilakukan oleh Bawaslu Jatim adalah mendorong keterbukaan infomasi kepada publik.

“Kami juga terus mendorong bagi setiap Kabupaten/Kota untuk memiliki semangat dalam keterbukaan publik”, tambah Ely.

Keterbukaan kepada publik akan bisa dicapai bilamana ada kerja sama dengan berbagai pihak. Bawaslu Jatim pernah mengundang beberapa media di Jawa Timur untuk meningkatkan kerja sama dalam mengabarkan Pemilu kepada publik.

Tidak hanya itu, Bawaslu Jatim memiliki cara agar generasi milenial dapat beradaptasi dengan cepat terhadap Bawaslu. Maka penyebaran informasi tentang Bawaslu juga dilakukan di media sosial. Mulai dari Facebook, Instragram, You Tube, dan Twitter.

“Kalau Masyarakat Jawa Timur ini tampaknya memang masih Facebook yang paling diminati. Ini menjadi peluang dan sasaran dari Humas untuk kian mengenalkan Bawaslu lewat media sosial”, paparnya.

Bawaslu Jatim juga mendorong jajaran di masing masing Kabupaten/Kota untuk dapat meningkatkan kapasitas dalam kehumasan. Hal ini dilakukan dengan cara melatih Penanggungjawab Kehumasan dan Staff Kabupaten/Kota untuk memiliki skill mengelola situs resmi yang dimiliki oleh Bawaslu di masing masing daerah.

Dorongan Bawaslu Jatim dilakukan dengan menggelar kompetisi. Dalam kompetisi yang dilakukan sejak bulan Juli sampai Agustus, akhirnya memunculkan 3 peserta terbaik dari masing-masing kategori. Untuk lomba foto story, Juara 1 Kota Mojokerto, Juara 2 Kabupaten Ponorogo dan Juara 3 Kabupaten Sidoarjo. Sementara untuk kompetisi website, pemenang juara 1 dari Kota Madiun, Juara 2 dari Kabupaten Bojonegoro dan Juara 3 dari Kabupaten Nganjuk.

Adapula lomba menulis dan fotografi on the spot. 3 peserta terbaik kategori menulis berita, Terbaik 1 Hasyim, dari Kabupaten Banyuwangi. Terbaik 2 Anton dari Kabupaten Blitar. Terbaik 3 Alim Musthofa dari Kota Malang.
Sedangkan kategori fotografi, terbaik 1 M Qibti Ismail dari Kabupaten Pasuruan, terbaik 2 Okta Srinanda Rifa’ie dari Kota Malang dan terbaik 3Fajar Rodhani Putra, Kabupaten Madiun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *