Hari ke sepuluh pasca voting day, tahapan rekapitulasi di Kecamatan berjalan alot, dari beberapa daerah pengawas Kecamatan merekom untuk dilaksanakan Pemilihan Suara Ulang atau Penghitungan Suara Ulang (PSU) terus meningkat. PSU akan dilaksanakan di ratusan TPS di seluruh Indonesia, benar-benar Pemilu yang melelahkan.

Harus diakui bahwa tingkat partisipatif masyarakat pada Pemilu kali ini meningkat sangat jauh dibanding Pemilu sebelumnya. Artinya kesadaran masyarakat untuk memberikan suaranya pun juga sangat signifikan. Masalah DPT yang krusial dari tahun ke tahun nampaknya menyumbang masalah terbesar pada pelaksanaan Pemilu kali ini, karena tingginya antusiasme masyarakat untuk memilih akhirnya banyak yang memilih datang ke TPS tanpa membawa formulir C6 yang merupakan form pemberitahuan untuk memilih di TPS, melainkan mereka datang ke TPS hanya dengan membawa e-KTP yang bukan di wilayah TPS berada.

Dari data yang diterima Bawaslu mencatat ada kurang lebih 121.993 laporan pelanggaran yang masuk, dan jumlah ini masih akan terus bergerak. Pemilu kali ini juga menyisakan kepiluan bagi banyak keluarga jajaran penyelenggara. Durasi kerja yang panjang, tekanan lingkungan pekerjaan yang memaksa untuk segera menyelesaikan perhitungan suara di TPS karena tahapan berikutnya juga sudah menunggu membuat banyak jajaran penyelenggara staminanya down. Tidak mudah bekerja terus menerus 3 kali 24 jam nyaris tidak meninggalkan TPS. Dari mulai persiapan H-1, hari H dan H+1.

Saya menerima laporan jumlah jajaran pengawas yang meninggal sampai tadi malam 25 April 2019 jam 11.05 bertambah menjadi 55 orang, yang akhirnya harus dirawat inap sebanyak 234 orang, yang rawat jalan sebanyak 725 orang, yang kecelakaan 174 orang sedang yang mengalami tindak kekerasan kurang lebih 14 orang. Kondisi yang sangat luar biasa jika dibanding dengan Pemilu sebelumnya. Rata-rata yang jadi korban untuk di jajaran Pengawas Pemilu adalah Pengawas Kecamatan (Panwascam) Pengawas Kelurahan/Desa (PKD) serta Pengawas TPS (PTPS). Sedangkan di jajaran penyelenggara Pemilu KPU adalah PPK, PPS, dan KPPS. Merekalah sesungguhnya ujung tombak penyelenggaraan Pemilu, yang mengawal suara rakyat dari TPS, tidak peduli mereka jadi bulan-bulanan masyarakat di Medsos, dibully, dikecam bahkan ada pula yang mempertanyakan integritas mereka.

Tidak bisa dinafikan bahwa memang ada oknum yang melakukan perbuatan tidak terpuji, karena terbukti dari laporan yang masuk ke Bawaslu melalui SIWASLU terdapat oknum KPPS yang mengerahkan pemilih untuk memilih calon tertentu. Tapi tentu lebih banyak yang bekerja ikhlas. Kesungguhan dan tanggung jawab mereka sangat besar dalam melaksanakan tugas. Saya menyampaikan duka yang mendalam bagi segenap Pahlawan Demokrasi yang meninggal dunia saat melaksanakan tugas. Kesedihan saya bagi mereka dan keluarga, tidak terkecuali yang saat ini tengah dirawat di rumah sakit di seluruh Indonesia, juga bagi mereka yang menjadi korban kekerasan. Kiranya Allah swt menerima pengabdian kalian sebagai amal baik dan menempatkan yang meninggal di tempat terbaik di sisi-Nya, serta segera memulihkan yang sakit.

Bawaslu dan KPU sudah mengajukan pemberian santunan kepada Pemerintah untuk semua yang menjadi korban dalam perhelatan akbar ini. Semoga kedepan kejadian ini tak akan terulang. Menjadi penting untuk mengevaluasi pelaksanaan pemilu serentak agar tidak menjatuhkan banyak korban.

Selamat jalan para Pahlawan Demokrasi……..
Salam takzim dari kami untuk kalian semua yang telah mengorbankan jiwa bagi terlaksana pesta demokrasi ini, kiranya Allah berkenan mengampuni segenap kesalahan kita, dan membalas pengorbanan saudara-saudara dengan gemilangnya masa depan Indonesia……

#bawasluberduka #pahlawandemokrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *