Takalar, Badan Pengawas Pemilhan Umum- Anggota Komisi II DPR RI Arteria Dahlan mengatakan, Indonesia merupakan negara yang menjalankan demokrasi namun juga menjadi pusat kejahatan demokrasi dari seluruh dunia. Menurutnya, sudah saatnya semua elemen masyarakat membenahi proses demokrasi dan menjadikannya lebih baik.

“Semua kejahatan demokrasi yang ada di Jerman, Amerika, ada di Indonesia. Entah itu politik uang, kampanye hitam, dan lainnya,” kata Arteria ketika menjadi narasumber pada acara Sosialisasi Tatap Muka Kepada Stakeholder dan Masyarakat di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan, Selasa (14/6).

Menurut Arteria, prinsip demokrasi sudah berjalan namun substansi belum. Pemimpin yang dipilih bukan yang memiliki rekam jejak yang baik maupun prestasi baik, melainkan yang memberi uang paling banyak. “Prinsip demokrasi memang berjalan. One man, one vote, one value. Tapi hasilnya bukan pemimpin yang diharapkan masyarakat,” ujarnya.

Namun dalam kesempatan tersebut, Arteria juga memberikan apresiasi kepada Bawaslu dan KPU yang telah bekerja dengan baik. Di antara kejahatan-kejahatan ini, kata Arteria, Bawaslu dan KPU masih bisa mengendalikan dan menyelenggarakan demokrasi dengan baik,” jelasnya.

Ia mengharapkan penyelenggara Pemilu dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai pengawas yang seharusnya jadi pemecah masalah, justru jadi sumber masalah. Ia juga menjelaskan, UU Pilkada yang direvisi telah mengakomodir segala kekurangan yang ada dalam pelaksanaan Pilkada sebelumnya. Hal ini diharapkan dapat memperbaiki Pilkada di masa yang akan datang, terutama yang terdekat Pilkada 2017.

“Kita jadikan demokrasi di Indonesia sebagai suatu proses yang hebat dan bermartabat. Semoga Pilkada tahun 2017 ini bisa melahirkan pemimpin yang tepat yang sesuai dengan hati nurani rakyat,” pungkasnya.

Penulis/Foto: Pratiwi EP